
Oleh; Ibnu Asikin
Siang yang sangat panas, badan sangat lemas, kepala sangat sakit. Aku
baru saja keluar dari kelas setelah baru saja selesai kuliah Komputasi
Fisika yang cukup membuat kepalaku pening. Aku berencana mau langsung
pulang ke tempat kost, tidak tahan rasanya dengan kepala yang makin
nyut-nyutan.
Di bawah teriknya panas matahari aku berjalan sambil
memijit-mijit kepala sendiri. Sebentar lagi aku akan segera keluar dari
Fakultas MIPA.
Deruan suara bising serangga-serangga bermesin di
Jalan Kaliurang sudah mulai terdengar dan cukup memekakan telingaku.
Terkadang aku mengangguk-anggukan kepala ke depan dan ke belakang, ke
kiri dan ke kanan seolah sedang senam peregangan, berharap bisa
mengurangi rasa nyeri di kepala.
Tetapi yang ada malah sebaliknya,
boro-boro hilang sakitnya, kepalaku malah semakin nyut-nyutan. Aku
mulai merasakan sesuatu yang aneh dengan pandanganku. Seluruh benda yang
aku lihat seolah berbayang. Jalan pun mulai gontai, tanah yang ku
injak serasa bergoyang.
“Assalamu’alaikum.”
Kudengar ada seseorang mengucapkan salam padaku. Suara seorang perempuan. Aku kenal suara itu.
“Wa’alaikum salam.”
Aku
jawab salam itu sambil berusaha tersenyum dan megarahkan wajah ke arah
sumber suara. Tapi aku tidak bisa dengan jelas memperhatikan siapa
perempuan itu. Sekilas kulihat di arah sumber suara ada seorang
perempuan berjilbab lebar melintas berlawanan arah denganku sambil
menggayuh sepedanya. Tapi aku tetap tidak bisa memastikan siapa
perempuan itu. Hanya bayangannya yang tidak jelas yang aku lihat.
Pandanganku
semakin kabur saja, kini semuanya berubah menjadi putih. Sakit kepalaku
semakin menjadi-jadi seolah seribu jarum tertanam di kepalaku.
“Ya Allah aku tidak kuat lagi.”
Warna putih yang mendominasi setiap sudut yang aku lihat perlahan berubah menjadi hitam gelap, hingga akhirnya gelap semua,
poek butarajin, seperti malam yang yang pekat, gelap sejauh mata memandang.
***
Suatu
tempat yang asing, aku tidak tahu aku sedang berada di daerah mana.
Waktu itu aku lewat di depan sebuah rumah panggung khas sunda.
Suasana tempat yang damai, tenteram, dan cerah dengan lingkungan sekitar yang serba hijau. Di depan rumah itu, tepatnya di
babancik
rumah panggung itu kudapati seorang laki-laki paruh baya yang sedang
menimang-nimang anak perempuan kecilnya. Anak perempuan kecil yang lucu
dengan jilbab mungil terpasanag di kepalanya. Di samping laki-laki paruh
baya itu aku lihat seorang anak laki-laki berumur kurang lebih enam
tahunan yang sedang menghafal ayat-ayat Al-Qur’an dibimbing oleh sang
laki-laki paruh baya. Sepertinya dia adalah putra dari laki-laki paruh
baya itu.
Anak laki-laki itu melantunkan Al-Quran surat Ar-Rahman
dengan begitu merdunya. Suara dan lagu tilawah yang khas, aku sering
mendengarnya. Anak laki-laki itu bertilawah dengan gaya tilawahnya Ahmad
Saud. Subhanallah, merdu sekali, cara bacanya juga sudah cukup tartil.
Aku sangat tertarik untuk mendekati mereka. Duduk-duduk dan berbincang-bincang bersama mereka di tempat penuh kedamaian itu.
“Assalamu’alaikum.” Kuucapkan salam kepada mereka.
“Wa’alaikum salam.” Balas bapak paruh baya itu dengan ramahnya.
Aku sudah berada di hadapan bapak paruh baya itu. Pandangan kami pun bertemu, aku dapat melihat wajahnya dengan jelas.
“Masya Allah!” Sontak aku mengucapkan kalimat ini dengan lirih.
Wajah yang sangat familiar, aku yakin aku sangat mengenal bapak itu, tapi aku tidak tahu siapa namanya.
Kuarahkan
pandanganku ke arah anak-anaknya untuk memastikan bahwa aku memang
mengenal mereka. Tapi aku tidak kenal anak-anak itu. Yang jelas aku
lihat hanyalah seorang anak perempuan yang lucu dengan jilbab mungil
terpasang di kepalanya dan seorang anak laki-laki yang sedang asyik
dengan hafalan qur’annya. Sama sekali aku tidak mengenal anak-anak itu.
Aku menjadi sangat penasaran dengan bapak paruh baya itu, aku ingin tahu siapa namanya.
“Maaf Pak, bolehkah saya mampir di sini?”
“Oh iya Nak, silahkan-silahkan!” balasnya, ramah.
“Ini putra-putri bapak ya, lucu ya anak perempuannya, terus yang laki-lakinya juga indah sekali tilawahnya.”
“Iya
Nak, ini anak-anak saya, yang perempuan ini baru belajar huruf
hijaiyah, dan kalau yang laki-lakinya Alhamdulillah sudah hafal empat
juz, sekarang masih terus menambah hafalan-hafalanya.”
“Wah, Subhanallah Pak, anak sekecil ini sudah hafal empat juz, luar biasa sekali.”
Bapak itu hanya membalas sanjunganku denagan senyumnya yang ramah.
Aku
menjadi malu pada anak kecil yang sudah hafal empat juz itu, aku malu
pada diri sendiri yang hampir berusia 21 tahun, tetapi belum banyak
hafalannya. Boro-boro sampai hafal empat juz, juz 30 pun masih lupa
ingat-lupa ingat.
“Maaf Pak, kalau boleh tahu, nama bapak siapa ya?” tanyaku penasaran.
“Oh iya Nak perkenalkan, nama saya Yusuf, lengkapnya Yusuf Siddiq Maulana.”
Jawab
bapak itu sembari menyodorkan tangan kanannya mengajakku berjabat
tangan. Aku pun menyambut sodoran tangannya untuk saling berjabat
tangan.
Selanjutnya mulutku hampir menganga dengan rasa kaget yang luar biasa ketika dia meyebutkan nama Yusuf Siddiq Maulana.
“Hah, Yusuf Siddiq Maulana?, itu kan namaku!”
Kalimat ini pun terlontar cukup keras dari mulutku. Sementara bapak itu hanya tersenyum melihat kekagetanku.
Bapak
paruh baya itu tidak menghiraukan rasa kagetku. Dia malah memanggil
istrinya yang sedang berada di dalam rumah sekaligus memintanya
membawakan air minum untukku.
“Mi, Umi, tolong ambilkan air minum Mi, ada tamu nih!” Katanya.
“Iya Bi.” Jawab istrinya dari dalam rumah.
Rasa
kagetku belum juga hilang akan perkenalan tadi. Kutatap dalam-dalam
wajah sang bapak paruh baya itu. Benar aku mengenalnya. Aku sangat kenal
dia. Wajah yang sangat familiyar. Ku lihat ke arah keningnya ada bekas
goresan luka melintang, mirip dengan yang ada pada keningku. Tentu aku
dibuatnya kaget lagi dengan kesamaan ini. Namanya Yusuf Siddiq Maulana,
peris sama dengan namaku.
“Silahkan Nak diminum airnya.”
Suara
lembut seorang perempuan paruh baya mengejutkan aku yang sedang
terkaget-kaget dengan keanehan itu. Ibu paruh baya itu memintaku untuk
meminum air teh yang sudah dihidangkannya di sampingku.
Ibu paruh
baya itu sudah berada di sampingku. Sesaat ku arahkan mataku ke arah
wajahnya, dan lagi-lagi aku dibuatnya kaget. Wajah ibu paruh baya itu
mengingatkan aku pada seseorang yang sangat aku kenal. Dia mengingtkan
aku pada seorang perempuan yang juga berjilbab lebar seperti ibu itu.
Seorang perempuan yang seringkali mengganggu pikiranku.
“Ini istri
saya, namanya Khadija, Khadija Khairunnisa.” Bapak paruh baya itu
memperkenalkan nama istrinya padaku. Kagetku semakin menjadi-jadi ketika
bapak itu menyebutkan nama itu.
“Hah, Khadija Khairunnisa?” kalimat ini pun terlontar dengan keras dari mulutku.
Nama yang sangat aku kenal, nama seoarang perempuan yang seringkali mengganggu pikiranku selama ini.
Ibu
paruh baya yang bernama Khadija itu pun hanya tersenyum menyaksikan
kekagetanku. Tidak ada komentar apa pun yang terucap dari mulutnya.
Aku
pun dapat melihat senyuman yang tulus dari wajahnya, senyuman tulus
yang mengingatkan aku pada seseorang yang sangat aku kenal, senyuman
tulus yang mengingatkan aku kepada seseorang yang seringkali membuat
jantungku berdetak kencang ketika aku melihat senyumnya, senyuman tulus
yang mengingatkan aku pada seseorang yang tidaklah cantik, tetapi ketika
aku melihatnya aku merasakan sangat berbahagia, ketika melihat
senyumnya hatiku menjadi tenteram, senyuman yang mengingatkan aku pada
seorang teman perempuan sholehah yang bernama Khadija Khairunnisa.
Namanya persis sama dengan ibu paruh baya itu.
Di tengah keadaan
yang serba membingungkan itu tiba-tiba terdengar rengekan seorang anak
perempuan kecil. Anak perempuan kecil yang sedang berada di pangkuan
bapak paruh baya tiba-tiba saja merengek, memecah suasana hening sesaat.
“Ade kenapa? Yuk sama Umi aja yuk
diais-nya, udah bosan ya,
diais sama Abi terus.” (
diais = dipangku; bahasa Sunda)
Sang
ibu paruh baya itu sangat cepat tanggap ketika anak perempuan kecilnya
merengek-rengek. Beberapa detik kemudian anak perempuan itu sudah berada
di pangkuan ibu paruh baya yang bernama Khadija itu. Tetapi rengekannya
tetap saja tidak berhenti, malah berubah menjadi tangisan yang cukup
keras.
Ditimang-timang sekian lama tetap saja tidak mau berhenti
tangisannya. Aku menjadi kasihan melihat ibu paruh baya yang tidak mampu
membuat anak perempuannya itu berhenti menangis. Sepertinya dia sudah
kerepotan sekali.
Aku langsung bangkit dari tempat dudukku.
Mendekat ke arah ibu itu dan kutatap anak perempuan lucu yang sedang
menangis di pangkuan ibunya itu. Kuhibur dia sebisa mungkin dengan
gayaku yang seperti pelawak. Lagi-lagi ibu paruhbaya itu hanya tersenyum
melihat tingkahku.
Tapi dampaknya bagi anak perempuan yang sedang
berada dalam pangkuannya memang cukup manjur. Tidak lama kemudian anak
itu berhenti dari tangisannya. Seberhentinya ia dari tangisannya, anak
perempuan lucu langsung menjulurkan kedua tangannya ke arahku.
Sepertinya dia ingin berada di pangkuanku. Aku pun dengan senang hati
menyambutnya. Ibu paruh baya itu juga melepaskannya dengan senyuman
khasnya.
Seketika anak perempuan lucu itu sudah berada di pangkuanku.
Subhanallah,
aku merasakan kehangatan yang luar biasa ketika aku menimang-nimang
anak perampuan itu. Perasaan sayang yang sangat luar biasa pada anak
perempuan itu menaungi diriku. Perasaan sayang yang berbeda dengan
perasaan sayang seoarang laki-laki pada seseorang yang hendak
dinikahinya. Perasaan sayang yang benar-benar tulus. Mungkin inilah
perasaan sayang seorang orang tua pada anaknya. Anak perempuan mungil
itu sepertinya betah berada di pangkuanku. Dia asik memainkan jenggotku
yang hanya beberapa lembar saja.
Kuarahkan mata sejenak ke arah bapak dan ibu paruh baya itu, dan seperti biasa mereka hanya tersenyum dengan ramahnya.
Aku
langsung duduk menghadap ke arah halaman rumah panggung yang serba
hijau itu, membelakangi bapak dan ibu paruh baya dengan tetap
menimang-nimang anak perempuan kecil yang lucu itu. Aku duduk di samping
anak laki-laki yang sudah berhenti dari menghafal Al-Qur’anya.
Seduduknya
aku di sampingnya, anak laki-laki itu pun seketika langsung menyadarkan
kepalanya ke bahuku. Ya Allah lagi-lagi aku merasakan perasaan yang
tidak biasa, perasaan yang sama seperti perasaanku pada perempuan kecil
yang hampir saja terlelap dalam pangkuanku. Inikah persaan cinta seorang
orang tua pada anaknya?!
Lagu ini pun mengalun dengan lembut dari mulutku,
“Tidurlah tidur, anakku sayang
Tidurlah tidur, dalam pelukan
Aku do’akan, kelak kau besar
Jadi pejuang, pembela islam
Tegarlah bagai batu karang
Hidup ini dalah perjuanangan
bersabar hadapi tantangan
Rihdo Allah lah tujuan
Cintai Allah dan Rasulullah
Cintai Al-Qur’an dan orang beriman
Cintai akhirat, zuhudkan hidup di dunia..
Tingginya cita-cita menjadi penghuni surga
Tidurlah-tidur anaku, dalam pelukan”
Kedua
anak itu sudah terlelap tidur, yang satu di pangkuanku dan yang satunya
lagi tersandar di bahu sebelah kiriku. Suasana pun hening, yang
kudengar hanyalah suara cicitan anak-anak ayam yang sedang bermain
dengan induknya di halaman rumah, dan yang kulihat hanyalah hijaunya
dedaunan yang tumbuh di halaman rumah itu. Sungguh tempat yang tenang
dan penuh kedamaian.
Sepi. Kuarahkan wajahku ke arah tempat bapak
dan ibu paruh baya tadi berdiri, namun tidak kudapati seorang pun dari
mereka berada di sana.
“Pada kemana mereka?” Pikirku.
“Pak.. Bu.. kalian di mana?” Aku memanggil-manggil mereka.
Tapi tetap tidak ada balasan. Hening.
“Pak.. Bu.. kalian di mana?” sekali lagi aku panggil mereka.
Tapi
tetap saja hening, tidak ada yang membalas panggilanku. Aku mulai
bingung dengan keadan waktu itu, kok mereka meninggalkan aku begitu
saja, pikirku.
Aku masih penasaran dengan dengan meraka, apakah
mereka benar-benar sengaja pergi meninggalkan aku dan sengaja
menyerahkan anaknya untuku.
“Pak.. Bu.. kalian di mana?” untuk yang ketiga kalinya aku berteriak memanggil bapak dan ibu paruh baya itu.
Alhamdulillah, untuk panggilan yang ketiga ini aku dapati seseorang menjawabnya
“Iya Bi sebentar, Umi segera ke sana.” yang aku dengar malah jawaban seperti ini.
“Abi, Umi, maksudnya apa?” Bisiku dalam hati.
Suara itu, aku sangat kenal suara itu.
Tidak
lama kemudian dari dalam rumah munculah sosok seorang perempuan muda
berkerudung lebar yang nampaknya seusia denganku. Aku sangat kenal dia.
Dia adalah Khadija.
“Ada apa lagi ini, Khadija memanggilku Abi.” Bisiku dalam hati.
“Khadija, kok anti ada di sini, bapak dan ibu tadi ke mana?” Tanyaku bingung.
“Bapak dan Ibu siapa Bi, dari tadi Umi ga liat siapa-siapa selain Abi yang sedang menimang-nimang anak kita, si
geulis dan si
kasep.” Jawabnya sambil tersenyum.
“Anak? Anak kita? Maksudnya?” Kataku dalam hati.
Kagetku
sudah sampai pada puncaknya, aku tidak tahan lagi dengan
keanehan-keanehan yang terus-terusan terjadi ini. Jantungku semakin
berdetak kencang ketika Khadija mendekat ke arahku sambil tersenyum
dengan senyumnya yang khas. Aku ingin bangkit dari tempat duduku, tapi
tidak bisa. Aku takut mengganggu anak-anak yang sedang terlelap di
pangkuanku. Khadija sudah di belakangku…
***
Mataku terbuka,
“Astagfirullah!” Ucapku lirih.
Aku
sedang berada di atas sebuah ranjang di tempat yang asing bagiku. Tapi
aku dapati dua orang anak manusia yang tidak asing bagiku, mereka sedang
berada di sampingku. Mereka berdua adalah Aldi dan Zaki, sahabat
baikku.
“Alhamdulillah, akhirnya antum sadar juga akh.” Kata Aldi.
“Di, ane kenapa Di, kok bisa ada di sini, ini di mana Di?.” Tanyaku pada Aldi.
“Udah
jangan banyak bertanya dulu, ceritanya cukup panjang, nanti kalo antum
sudah benar-benar pulih ane ceritain deh kejadianya seperti apa, antum
sekarang berada di Sarjito.” (maksudnya di Rumah Sakit dr. Sardjito)
Jawab Aldi.
Di kepalaku terpasang kain kompres untuk menurunkan
panas, di tangan kiriku juga terpasang alat infus. Aku masih merasakan
kepalaku yang sakit. Kembali kulemaskan leherku yang sempat menegang
sesaat ketika terbangun dari tidak sadarkan diri barusan. Kuambil posisi
paling rileks. Aldi memijat-mijat kepalaku, dan Zaki memijat-mijat
kakiku.
“Kemungkinannya, tadi pagi sebelum kuliah, antum ga makan
ya Cup, kata dokter perut antum ini kosong.” Kata Zaki sambil tetap
memijat-mijat kakiku. Ucup, itulah nama yang sering digunakan
teman-temanku untuk memanggilku.
“Iya, ane ga sempet sarapan dulu,
kuliahnya jam tujuh sih, biasanya ga apa-apa, tapi kok sekarang malah
bisa sampai seperti ini.”
“Wah jangan dibiasain seperti itu Cup,
kalo ane sih mendingan datang kuliah agak telat daripada kuliah dengan
perut kosong, bahaya, kalo kena maag kan repot urusannya.”
Sahabat-sahabatku
ini memang sangat perhatian padaku, sampai-sampai mereka rela menjaga
aku selama tidak sadarkan diri. Mereka juga sering memberikan nasehat
yang sangat berharga untukku.
Sesaat kuarahkan mata ke arah jam dinding yang terpasang di dinding ruangan itu.
“Sudah
jam setengah sembilan malam ya Di?, bisa ambilin ane air Di, ane mau
wudhu, mau sholat Isya. Antum berdua udah pada sholat Isya?”
“Udah lah, nanti sholatnya sambil berbaring aja ya, untuk wudhunya biar nanti kami yang bantu.” Kata Aldi.
“Ya, ga apa-apa.”
Aldi
langsung mengambilkan aku air dari kamar mandi yang ada di ruangan itu
untukku berwudhu. Selanjutnya Aldi dan Zaki membantuku berwudhu dalam
posisi tubuh masih tetap berbaring. Selesai dibantu berwudhu aku
langsung melaksanakan shalat Isya di atas ranjang.
Seusai shalat aku mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi padaku tadi siang.
Aku
mulai ingat apa yang terjadi tadi siang. Tadi siang setelah selesai
kuliah jam 11.30, aku berencana mau langsung pulang ke tempat kost.
Namun sayang, di perjalanan aku tidak kuat lagi menahan sakit kepala
yang serasa ditanami seribu jarum. Hingga akhirnya aku pun pingsan.
“Ki, Di, gimana ceritanya ane bisa nyampe ke sini?”
“Tadi
siang antum nyungsep di deket gerbang fakultas MIPA itu Cup. Ane di-sms
sama Khadija kalo antum pingsan. Tadi siang ane lagi di mushola, lagi
nunggu sholat Zuhur. Dapet kabar antum pingsan ane langsung menuju ke
TKP aja, skalian ngajak Zaki yang kebetulan tadi siang dia baru saja
selesai wudhu.”
“Khadija, kok bisa dia yang ngasih tau?”
“Katanya,
tadi siang dia mau berangkat ke kampus, terus di jalan berpapasan
dengan antum, dan melihat antum sangat lunglai sekali, terus pingsan.”
Aku
mulai ingat, tadi siang ada seorang perempuan bersepeda yang
mengucapkan salam padaku. Aku tidak dapat melihatnya dengan jelas tapi
aku kenal suaranya. Aku baru sadar suara yang menyapaku dengan salam itu
ternyata suaranya Khadija.
“Yaa Allah, ada apa dengan ini
semua, apakah ini hanya sekedar kejadian biasa tanpa makna, atau Engkau
hendak memberikan kabar gembira untuk hamba.”
Kupejamkan mataku. Kuucap istighfar sebanyak-banyaknya.
End..
*)
Cerita ini 100% fiktif. Semoga padanya ada manfaat.
Sumber:
http://www.dakwatuna.com/2013/06/11/34937/rasaku-terjaga-untuknya/#ixzz2WAXe7GRU