Tampilkan postingan dengan label CELOTEH Ust Zulfi akmal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CELOTEH Ust Zulfi akmal. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Agustus 2013

Baca dan Tadabbur Qur'an

Syekh Mahmud Khalil al Hushary:
Kewajiban orang yang membaca al Qur'an untuk menyibukkan hati dan fikirannya pada makna setiap kalimat yang ia ucapkan. Ia harus mengetahui kemana arah tujuan setiap ayat. Sekaligus ia harus menghayati segala perintah dan larangannya.

Selanjutnya, ia ukur seluruh sifat dan perbuatannya dengan kandungan ayat-ayat itu. Andaikan ia berada pada posisi kurang ia harus menghadap dengan seluruh anggota tubuhnya kepada Tuhannya. Dan ia harus minta ampun dari segala dosanya.

Andaikan ia berlalu dengan penuh keseriusan ia harus memuji Allah dan meminta kepada-Nya supaya selalu diberi bimbingan dan kelurusan.

Dan tadabbur adalah tujuan paling utama dari membaca Al Qur'an.

Di antara bala' yang paling bahaya itu adalah bahwa setiap orang mengira kandungan ayat al Qur'an yang ada selalu ditujukan kepada orang lain, hingga ia tidak memperobeh faedah untuk dirinya sendiri.

Senin, 22 Juli 2013

Cintai Saudara Mu

Konon kabarnya Hajjaj bin Yusuf Ats Tsaqafy memerintahkan untuk menagkap 3 orang dalam sebuah kasus dan memasukkan mereka ke dalam penjara.Selanjutnya ia memerintahkan algojonya untuk memenggal kepala ketiga orang itu.

Tatkala mereka digiring ke depan algojo, Hajjaj melihat seorang perempuan cantik menangis dengan sangat memilukan.

Lalu ia berkata: Bawa perempuan itu ke hadapanku!

Ketika ia sudah berada di depannya, ia bertanya: "Apa yang membuatmu menangis?"

Perempuan: Orang-orang yang engkau perintahkan untuk dipancung itu adalah suamiku, saudara kandungku dan anak kesayanganku, bagaimana aku tidak akan menangis?

Lalu Hajjaj memutuskan untuk memaafkan salah seorang di antara mereka bertiga sebagai penghargaan terhadap perempuan itu. Dan ia berkata: "Pilihlah salah seorang di antara mereka bertiga untuk aku maafkan".

Dalam perkiraan Hajjaj perempuan itu akan memilih anaknya.

Suasana menjadi tegang dan sunyi senyap. Seluruh mata tertuju kepada perempuan itu, menunggu siapa yang ia pilih untuk dimaafkan.

Ia diam sejenak, kemudian angkat bicara: "Aku pilih saudaraku".

Hajjaj menjadi kaget mendengar jawaban perempuan itu. Langsung saja ia bertanya apa rahasia dibalik pilihannya terhadapa saudaranya?

Lantas ia menjawab: Adapun suami ia tetap ada. (Artinya ia mungkin menikah lagi dengan laki-laki lain)

Adapun anak juga ada. (Artinya setelah menikah lagi ia bisa memperoleh anak kembali)

Adapun saudara ia akan hilang (Karena ibu dan bapaknya sudah tidak ada)

Jadilah ungkapan perempuan itu sebagai pribahasa dan kata-kata hikmah yang membuat Hajjaj jadi tercengang melihat kebijaksanaan dan kepintarannya.

Akhirnya Hajjaj memutuskan untuk memaafkan mereka semua.

Subhanallah.......

Kesimpulan: Saudara itu tidak tergantikan. Seseorang tidak akan merasakan betapa berharganya seorang saudara kecuali setelah kehilangan salah seorang di antara mereka.

Makanya peliharalah hubungan antara dirimu dengan saudara-saudaramu, karena mereka adalah sesuatu yang tidak mungkin tergantikan.

Jumat, 19 Juli 2013

Ramadhan Bulan al-Qur'an


Seorang kakek tinggal di sebuah perkebunan di kaki pegunungan yang indah bersama seorang cucunya yang masih kecil. Sang kakek selalu bangun subuh untuk shalat tahajjud dan dilanjutkan dengan shalat subuh. Setelah itu ia duduk di hadapan sebuah meja untuk membaca al Qur'an. 

Sang cucu ingin sekali meniru kakeknya dalam segala hal. Ia menirukan setiap gerakan dan perbuatan yang dilakukan oleh kakeknya. 

Pada suatu hari ia bertanya kepada kakeknya: "Wahai kakek, aku sudah berusaha dengan serius untuk membaca al Qur'an seperti yang engkau lakukan, akan tetapi setiap kali aku berusaha membacanya aku tidak dapat banyak memahaminya. Kalaupun aku faham tentang sesuatu cepat sekali hilang dari ingatanku. Baru saja aku menutup mushaf al Qur'an berangsur-angsur hilang dari memoriku apa yang sudah aku fahami itu. Jadi apa gunanya membaca al Qur'an banyak-banyak?

Waktu itu sang kakek lagi menggenggam bara untuk diletakkan di atas pemanas ruangan, lalu ia seperti meludah dengan tenang dan ia letakkan bara yang ada di tangannya. Kemudian ia berkata: Ambillah keranjang bara yang sudah kosong ini dan pergilah ke sungai, kemudian kembalilah ke sini dengan membawa air!

Dengan patuh anak kecil itu pergi melakukan apa yang diperintahkan kakeknya. Akan tetapi ia dikagetkan dengan air yang menetes dari sela-sela keranjang dan habis sebelum sampai ke rumah. 

Kakeknya memperhatikan sambil tersenyum dan berkata: Harusnya kamu lebih cepat lagi berjalan membawa air itu!

Sang cucu kembali lagi ke sungai dan berusaha berjalan lebih cepat ke rumah. Sayang sekali air tetap saja merembes keluar dari keranjang. Anak itu menjadi kesal. Lalu ia berkata kepada kakeknya: Merupakan hal yang mustahil bila aku membawakan air untuk kakek dengan keranjang ini, sekarang aku akan pergi ke sungai dengan membawa ember supaya aku bisa memenuhinya dengan air untukmu.

Kakek: Tidak, aku tidak memintamu membawakan air dengan ember, aku menginkan keranjang berisi air. Aku kira kamu belum mengerahkan segala kesungguhan wahai cucuku.

Kemudian sang kakek keluar bersama cucunya untuk membimbingnya secara langsung melakukan apa yang ia perintahkan. Anak kecil itu yakin sekali kalau ia melakukan sesuatu hal yang mustahil. Cuma ia ingin memperlihatkan keseriusan kepada kakeknya dengan bukti perbuatan. Ia berlari sekencang-kencangnya menuju kakeknya. Sambil terengah-engah ia berkata: Kakek sudah lihatkan? Tidak ada faedahnya???

Sang kakek memandangi cucunya sambil berujar: Apakah kau mengira tidak ada faedahnya apa yang sudah kau lakukan? Ke sinilah dan lihatlah apa yang terjadi dengan keranjang ini!

Anak itu mengamati keranjang itu, ia baru sadar kalau keranjang itu sekarang sudah berubah dari bentuk semula. Keranjang yang tadinya dikotori oleh bara sekarang betul-betul sudah bersih, baik dari luar maupun dari dalam.

Ketika sang kakek melihat cucunya jadi tercengang, ia berkata: Persis seperti ini yang terjadi ketika kamu membaca al Qur'an. Barangkali kamu tidak faham banyak darinya, dan kamu cepat lupa apa yang kamu fahami atau yang telah kamu hafal dari ayat-ayatnya, akan tetapi ketika kamu terus membacanya kamu akan berangsur berubah ke arah yang lebih utama, baik itu dari dalam jiwa maupun dari penampilan sifat luar. 

Ramadhan bulan al Qur'an, mari kita perbanyak membaca dan mentadabburinya.

Kamis, 13 Juni 2013

BERSUKUR

                                                                                                                           

oleh; Zulfi Akmal

Seorang ibu yang baru saja selesai melahirkan diberi masa nifas selama 40-60 hari menurut kebiasaan. Di samping nifas itu berguna membersihkan tubuh seorang ibu dari penyakit dan memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak selama hamil dan melahirkan, Allah ingin memberikan kemudahan bagi seorang ibu untuk konsentrasi merawat anaknya. Ia tidak dibebani ibadah apa pun selama ia masih dalam keadaan nifas. Ibadah, bahkan jihad baginya pada waktu itu adalah melayani generasi pelanjut yang akan memakmurkan kehidupan di dunia, yang akan menjadi hamba-hamba Allah di permukaan bumi. Itu semua hanya untuk kepentingan hamba-Nya.
Dari hal ini kita bisa memahami bahwa Allah hanya ingin memindahkan kita dari satu nikmat kepada nikmat berikutnya. Semua ibadah yang kita lakukan hanya untuk kebaikan kita, tidak ada kepentingan Allah di sana. Sehingga seolah-olah Allah mundur (tanazul) dari hak-hak-Nya demi kebaikan dan kemudahan hidup hamba-Nya.

Allah hanya inginkan pengakuan dan sedikit rasa syukur dari hamba-Nya. Di mana pengakuan dan rasa syukur itu pun bukanlah karena Allah ingin disanjung, dimuliakan. Karena kekuasaan dan kemuliaan Allah tidak akan bertambah dengan banyaknya ibadah kita, dan Allah tidak akan menjadi hina karena kezaliman dan kekafiran hamba-Nya.

Rasa syukur itu manfaatnya juga hanya untuk kita. Karena kufur terhadap nikmat Allah menyebabkan proses pemberian nikmat selanjutnya menjadi terhalang. Jadi bukan Allah yang menghalangi nikmat turun kepada diri kita, tapi kita sendiri sebenarnya yang menghindar atau menghalangi nikmat Allah itu untuk datang.

Maha Suci Engkau ya Allah, kami saja yang tidak memahami hal itu semua, maka tambahkanlah pemahaman kepada kami dan jadikanlah kami termasuk hamba-Mu yang pandai bersyukur.